Dewan Syuro Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) Habib Abdullah al Hadad menyerukan umat Islam khususnya yang menjadi warga Jakarta untuk tetap berpegang teguh terhadap agama Allah, mengikuti seluruh aturan Islam termasuk soal kepemimpinan. Hal tersebut disampaikan dalam rangka menanggapi adanya tudingan sara terhadap gerakan untuk memperjuangkan Gubernur Muslim di Jakarta.

"Dimana-mana di daerah mayoritas non muslim, seperti di Manado, Bali, Papua itu pemimpinnya beragama sesuai mayoritas disana, dan para pemuka agama seperti pendeta di gereja juga mendengungkan pemimpin dari kelangan mereka. Itu hak mereka, umat Islam tidak pernah protes selama ini," ujar Habib Abdullah kepada Suara Islam Online usai acara silaturahim para ulama di Gedung Juang, Jakarta, Jumat (11/3/2016).

"Begitu juga dengan Jakarta yang mayoritas umat Islam, sehingga wajar jika para ulama dan umat Islam menginginkan pemimpinnya juga muslim. Ini sebuah kewajiban dalam agama kita," tambahnya.

Oleh karena itu, kata Habib Abdullah, para ulama harus terus menyerukan kepada umat Islam bahwa memilih pemimpin muslim itu wajib, karena memang perintahnya seperti itu. "Soal mereka mau anggap ini sara bahkan sektarian itu urusan mereka, kita tidak usah hirau dengan pendapat itu," katanya.

"Dan pemimpin muslim juga sebetulnya untuk kepentingan semua, untuk menghormati semua agama, tidak mengganggu ajaran agama lain. Tidak seperti Ahok yang kebijakannya merugikan umat Islam seperti melarang memotong hewan kurban, melarang pengajian di Monas, mendukung pelegalan miras prostitusi, dan lainnya," jelas Habib Abdullah.

Jadi, menurutnya, upaya menghadirkan gubernur muslim yang yang taat, jujur, amanah dan memiliki kemampuan untuk memimpin harus terus diperjuangkan. "Jalan aja terus sesuai aturan yang berlaku," tandasnya.

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top