Namanya Muhammad Shahab, gelarnya Peto Syarif, yang artinya Ulama yang mulia. Di awal tahun 1800-an ia membangun sebuah kampung di Bukit Gunung Jati - Padang - Sumatera Barat, yang kemudian kampung tersebut terkenal dengan nama Bonjol. Selanjutnya ia dipanggil Tuanku Imam Bonjol.

ADAT BASANDI SARA'

Sebagai Ulama Asli Minangkabau, ia berprinsip "Adat Basandi Sara', dan Sara' Basandi Kitabullah" artinya "Adat bersendikan Syariat, dan Syariat bersendikan Kitabullah". 

Imam Bonjol menolak keras perilaku Kaum Adat dukungan Penjajah Belanda yang terus memasyarakatkan Sabung Ayam, Judi, Tuak dan Madat atas nama Adat. 

LASKAR PADERI

Imam Bonjol pun membentuk Laskar Amar Ma'ruf Nahi Munkar yang disebut Kaum Paderi dan berpakaian serba putih untuk menumpas semua ma'siat di Bumi Minangkabau. 

Imam Bonjol dan pasukan Paderinya berhasil menjaga Adat Minangkabau agar tidak diselewengkan atau dirusak oleh siapa pun, baik Kaum Adat mau pun Belanda.

ADU DOMBA SYARIAT DAN ADAT

Belanda tidak suka, di tahun 1821 Belanda memprovokasi dan membantu Kaum Adat memerangi Imam Bonjol, tapi hingga tahun 1836, Belanda tidak mampu mengalahkan Pasukan Paderi pimpinan Imam Bonjol.

Di tahun 1837, secara licik Belanda menyerang rumah keluarga Imam Bonjol dan melukai serta menyandera anak isterinya, sehingga memancing Imam Bonjol keluar dari medan tempur untuk menyelamatkan keluarga. 

Akhirnya, Imam Bonjol terkepung dan tertangkap, lalu dibuang ke Cianjur - Jawa Barat. 

DARI CIANJUR KE MENADO

Di Cianjur Imam Bonjol sangat dihormati, karena masyarakat Sunda sangat CINTA ULAMA.

Belanda khawatir di Cianjur Imam Bonjol semakin hari semakin berpengaruh, karena masyarakat muslim Sunda banyak yang mengunjungi dan mendekatinya serta mendengar fatwa-fatwanya.

Lalu Imam Bonjol dibuang ke Ambon. Lagi-lagi di Ambon Imam Bonjol mendapat sambutan hangat masyarakat muslim disana. 

Akhirnya, Imam Bonjol dibuang ke Menado hingga wafat disana pada tahun 1864 dalam usia 92 tahun.

I'TIBAR

Islam selalu terbuka terhadap segala bentuk Adat, selama tidak melanggar Syariat. Islam di atas segala Adat, dan setiap Adat harus ditimbang di atas timbangan Syariat.

Adat yang baik dilestarikan. Adat yang menyimpang diluruskan. Adat yang salah diperbaiki. Adat yang jahat dibuang dan dihilangkan.

Setiap muslim dalam membela Islam harus siap menanggung segala resiko perjuangan, kapan saja dan dimana saja.

Hasbunallaahu wa Ni'mal Wakiil ... Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir ...

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top