HabibRizieq.com - Ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, Senin (7/12/2015). Aksi tersebut digelar dalam rangka menolak praktik kemusyrikan yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Beberapa spanduk bertuliskan aneka tuntutan mereka bentangkan, antara lain: “Selamatkan Purwakarta Dari Kemusyrikan.” “Bupati Purwakarta Penista Islam” Bupati Purwakarta Penista Adat Sunda.” “Kemusyikan Bukan Adat Sunda.” “Adat Sunda Sejalan Dengan Islam.” “Urang Sunda Cinta Habib Rizieq.” “Habib Rizieq Pembela Aqidah Urang Sunda.” “Stop Hinduisasi Purwakarta.” 

Selain itu, beberapa pengunjuk rasa terlihat mengenakan ikat kepala yang bertuliskan: “Tangkap Dedi Mulyadi.” “Tangkap Denda Alamsyah.” Dan lain sebagainya.

Ketua aksi, Ustadz Asep Syarifudin mengatakan aksi ini untuk menjaga Jabar dari unsur kemusyrikan. "Kita selamatkan Jabar dari rongrongan kemusyrikan," ujarnya.

Menurutnya, budaya yang tidak bertentangan dengan syariat harus dijaga, tetapi kalau sudah masuk unsur kemusyrikan itu tidak boleh dibiarkan.

"Muslim Sunda merasa prihatin dengan upaya Dedi Mulyadi yang mengacak-acak akidah dengan unsur kemusyrikan yang berdalih budaya," katanya.

Ia menegaskan bila Sunda adalah identik dengan Islam. Adat Sunda juga disebut sejalan dengan syariat Islam. Alhasil, apa yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta dengan membangun patung-patung  dan keyakinan-keyakinan lain yang diklaim sebagai adat Sunda sejatinya bukanlah merupakan adat Sunda.

Seperti diketahui, Dedi Mulyadi, sejak memimpin Purwakarta terus berusaha menghidupkan kembali ajaran Sunda Wiwitan, sehingga ia menghiasi Purwakarta dengan aneka patung pewayangan seperti patung Bima dan Gatotkaca, bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.

Dedi juga membuat Kereta Kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang isteri, Nyi Loro Kidul. Kereta Kencana tersebut dipajang di Pendopo Kabupaten Purwakarta, dan diberi kemenyan serta sesajen setiap hari, lalu dibawa keliling Purwakarta setahun sekali saat acara Festival Budaya, dengan dalih untuk membawa keliling Nyi Loro Kidul buat keberkahan dan keselamatan Purwakarta.

Dedi juga disebut menganjurkan agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca Alquran.

Selain itu, pohon-pohon di sepanjang jalan kota Purwakarta diberi kain "Poleng", yaitu kain kotak-kotak hitam putih, bukan untuk "keindahan", tapi untuk "keberkahan" sebagaimana adat Hindu Bali, dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali.

Aksi demontrasi ini diikuti berbagai elemen masyarakat Jawa Barat, seperti Pondok Pesantren, Dewan Kesejahteraan Masjid, Majelis Ta'lim, Lembaga Swadaya Masyarakat, beserta elemen masyarakat lainnya.

DESAK SEGERA PROSES HUKUM DEDI MULYADI

Dalam aksi ini, Masyarakat Muslim Sunda (MMS) juga menyuarakan desakan kepada Kepolisian Daerah Jawa Barat segera memproses hukum Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang telah dilaporkan masyarakat atas kasus dugaan penistaan terhadap Agama. 

"Mendesak kepada Polda Jabar untuk segera melakukan proses hukum terhadap Dedi Mulyadi atas pelaporan penistaan Agama," ungkap MMS dalam rilisnya yang dibagikan kepada para wartawan.

Sebelumnya dikabarkan, pada Senin (30/11) sejumlah ulama Jawa Barat melaporkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ke Polda Jabar atas dugaan kasus penistaan agama. 

"Laporan ini atas permintaan dari ulama-ulama Purwakarta yang sudah resah dengan prilaku Dedi Mulyadi yang banyak menodai ajaran agama Islam," ujar pelapor, Ustadz Muhammad Syahid Joban. 

WASPADA ADU DOMBA ADAT DENGAN SYARIAT

Masyarakat Muslim Sunda (MMS) juga menghimbau supaya elemen masyarakat Sunda Jawa Barat untuk tidak mudah terprovokasi dan diadu domba oleh pihak manapun yang tidak bertanggung jawab, yang hendak membenturkan urang Sunda dengan Islam.

"Mengajak kepada segenap elemen masyarakat Sunda, khususnya masyarakat Jawa Barat untuk memperkokoh tali persaudaraan dan persatuan seta menjaga dan melestarikan adat dan budaya Sunda yang sejalan dengan syariat agama Islam," tulis MMS dalam pernyataannya.

Kepada Gubernur Jabar dan jajarannya, MMS juga mendesak supaya mereka turut melestarikan adat dan budaya Sunda yang sejalan dengan syariat Islam serta menjaga kerukunan sesama urang Sunda, khususnya masyarakat Jawa Barat.

Tim News FPI/dbs

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top