Sebagai orang Islam awam, Bupati Dedi Mulyadi disarankan untuk mendengarkan ucapan-ucapan ulama, bukan malah melawan. Hal ini terkait dengan praktik-praktik budaya yang dilakukan Dedi di Purwakarta yang dinilai para ulama sebagai bagian dari kemusyrikan. 

"Pantaslah ulama di daerah beliau melakukan koreksi dan teguran. Sebagai orang Islam awam dia harus mendengar ucapan ulama," ungkap Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Tengku Zulkarnaen kepada Suara Islam Online, di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta, Jumat (27/11). 

Sebagai pejabat negara, Dedi juga disarankan supaya menyerahkan segala sesuatu pada ahlinya. Soal agama, tentu saja harus diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia. "Dia bukan ahlinya," kata Tengku. 

Demikian pula dalam bidang lain. Ketua Dewan Fatwa Matlaul Anwar itu berpendapat Dedi juga harus menyerahkan persoalan-persoalan terkait dengan keahlian kepada ahlinya. Soal ekonomi diserahkan pada ahli ekonomi, soal adat diserahkan pada tokoh adat, pembangunan diserahkan pekada Bappeda. "Nggak bisa seenaknya, ini negara hukum," katanya. 

Terkait soal agama yang Dedi bukan ahlinya, Tengku mengingatkan bahwa negara Indonesia adalah berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa dimana setiap warga negara dijamin untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Jika seorang Bupati melakukan kesalahan dalam persoalan agama, terutama agama Islam, akan bisa merusak rakyatnya yang beragama Islam. 

Terkait dengan kearifan lokal (local wisdom) yang selama ini dijadikan kedok pembenaran aktivitas kemusyrikan di Purwakarta, Tengku Zulkarnaen membantahnya. Menurutnya harus dibedakan kearifan lokal sebagai budaya dan agama. 

"Kalau merusak agama melanggar sila pertama Pancasila. Bila rakyatnya 90 persen bergama Islam kalau dia rusak rakyanta juga bisa ketularan rusak," tegasnya.

Tengku Zulkarnaen mendukung upaya koreksi dan teguran yang dilakukan para ulama Purwakarta terhadap Bupati Dedi. Malah ia menyarankan supaya teguran itu tidak hanya lisan tetapi juga tulisan. 

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top