Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Saat seseorang berpuasa, ia akan merasakan lapar dan haus, sehingga ia tahu rasa perih perut ketika lapar dan panas kering tenggorokan ketika haus.

Itu pun, rasa lapar dan hausnya akibat berpuasa masih tidak seberapa, karena diawali dengan Sahur dan diakhiri dengan Ifthor, bahkan tidak sedikit yang Sahur dan Ifthornya dengan penuh kenikmatan aneka macam makanan dan minuman.

Lalu bagaimana dengan faqir miskin melarat yang sepanjang hari "berpuasa" tanpa Sahur dan tanpa Buka, bukan hanya di Bulan Ramadhan, tapi sepanjang Tahun, tanpa ada harapan untuk berbuka dengan kenikmatan aneka makanan dan minuman. Baginya bisa mendapat sesuap nasi dan seteguk air saja sudah "sangat nikmat".

Tentu rasa perih perut akibat lapar dan panas kering tenggirokan akibat haus yang dialami oleh para Faqir Miskin melarat jauh lebih dahsyat dan berlipat dibanding dengan rasa lapar dan haus mereka yang berpuasa disertai Sahur dan Ifthor dengan kenikmatan aneka makanan dan minuman.

Seorang Syeikh di Timur Tengah dalam suatu acara da'wah di sebuah stasiun televisi menangis terseduh-seduh ketika ditayangkan seorang warga Somalia yang kurus kering kerontang akibat kelaparan sambil bertanya via layar TV : "Wahai Syeikh, apakah puasa saya diterima ... karena tanpa sahur dan tanpa berbuka ... ?"

Karenanya, setiap muslim wajib menjadikan Puasa sebagai pendidikan kepedulian kepada sesama umat manusia. Melalui puasa seyogyanya setiap muslim menumbuh-suburkan sikap Peduli Sosial, sehingga ia tidak akan membiarkan ada umat manusia mana pun yang kelaparan dan kehausan, apalagi saudara muslimnya.

Pantas, Puasa diwajibkan selama sebulan dan setiap tahun, agar supaya setiap tahun selama sebulan umat Islam kembali diingatkan dan diingatkan tentang pentingnya Kepedulian Sosial terhadap sesama umat manusia.

Subhaanallaah wal Hamdulillaah wa Laa ilaaha illallaah Wallaahu Akbar ...

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top