Empat belas tahun lalu aku sempat tinggal di area Upton Park, London, dekat sekali dg stadion West Ham.

Saat itu Faris baru usia sebulan, maka seringkali sampai tengah malam aku menggendongnya terkantuk-kantuk sambil membujuk si kakak yg ikutan nangis, tak bisa tidur diiringi sorak sorai dan riuh terompet suporter pertandingan bola yg terdengar jelas dari dalam rumah.

Paginya saat aku ke pasar atau ke klinik mau tak mau melewati deretan pub dekat stadion. Dan adalah pemandangan biasa kalau kaleng bir atau botol minuman beralkohol lainnya berserakan di jalanan, tak lengkap mungkin kalau nonton bola tanpa ditemani atau diakhiri dg pesta miras. Bukan itu saja. Di tepi-tepi jalan atau gang pun kadang masih nampak bekas kering muntah atau air seni orang yg nampaknya dalam maboknya tak bisa menahan kedua hal itu.

Seringkali dalam rute jalan kakiku di sudut-sudut tertentu kota London/Bristol/Bedford kulihat homeless atau punks atau hoodies dg jaket kumal yg jalan sempoyongan sambil memegang botol bir dan meracau. Atau bag-ladies yg kemana-mana bawa gembolan sambil ngomel-ngomel sendiri. Kadang ada juga yang minta uang pada pejalan kaki yg lain, yup, to feed his/her habit. Paling parah yg sambil menggiring anjingnya yg gedenya bikin aku merinding. Di kantong jaketnya menyembul botol bening atau hijau entah apa isinya aku tak bisa membedakan. Yg jelas bukan penyegar cap kaki tiga.

Tapi bukan berarti slick city workers, pekerja kantoran berbaju keren atau stylish young mums tidak ada yg punya problem yg sama, yaitu ketergantungan alkohol.

Sedikit larut saja anda jalan-jalan maka bisa melihat gadis-gadis berdandan menor dan berbaju minim antri utk bisa masuk pubs, bars atau night clubs, iyaaa bahkan di tengah menggigitnya udara winter. Dan menjelang pagi tinggal hitung saja berapa dari gadis tadi yg muntah muntah sambil bergelayutan pada temannya. Tak kurang Euan anak PM Tony Blair pernah ditangkap polisi karena mabuk-mabukan saat masih 16 th (under age binge drinking).

Masak sih? Ya kalau anda kesana sebagai turis mungkin memang tak akan nampak hal2 yg begini.

Kok bisa? Negeri yg nampak indah gemah ripah ternyata kewalahan menghadapi penyakit sosial yg satu ini. Belum lagi rantai problem lanjutan dari konsumsi alkohol ini: drunk driving yg mengakibatkan kecelakaan lalu lintas, perkosaan, drug/substance abuse, dan jenis kriminalitas lainnya.

Apakah tidak ada regulasi peredaran minuman beralkohol disana? Oh sangat ada. PENJUALAN, PEMBELIAN dan KONSUMSI alkohol semuanya ada aturan hukumnya yg jelas dan tegas.

Anda harus berusia di atas 18 utk bisa membeli miras, harus menunjukkan kartu identitas utk itu. Bahkan jika anda sudah dewasa pun tetap tidak boleh membelikan alkohol untuk under-18, anda bisa didenda sampai £5000 atau penjara sampai 10 tahun. Kalau anda mengemudi dalam keadaan overlimit anda juga bisa ditangkap dan dipenjara, mereka punya alatnya utk mengetes itu.

Anda harus mengajukan permohonan lisensi khusus sebelum bisa menjual alkohol di premis anda, harus bayar fee tahunan, dan bisa menjamin tidak ada pelanggaran seperti menjual alkohol pada under age, dendanya £20 ribu dan resiko dicabutnya lisensi.

Bahkan untuk mendapatkan personal licence yg memungkinkan orang utk menjual alkohol di beberapa premis syaratnya seseorang harus bersih dari rekam kriminal, harus punya kualifikasi khusus yg telah diakreditasi oleh Secretary of State yg membuktikan bahwa orang itu bisa bertanggung jawab pada masyarakat. Tidak main-main kan aturannya? Tapi tidak berarti berhasil mencegah kerusakan substansial yg disebabkan oleh substansi yg satu ini.

Di satu sisi aku juga banyak baca kisah betapa ketergantungan pada alkohol ini menyebabkan banyak kehancuran fisik, mental dan ekonomi. Seorang ayah atau ibu yg kecanduan akan dengan mudah jadi pelaku KDRT. Calon ibu yg kecanduan bahkan bisa memberi hadiah terburuk pada bayi yg belum dilahirkan berupa Fetal Alcohol Syndrome yg berakibat disabilitas fisik dan mental yg parah. Pelacuran remaja adalah bagian dari lingkaran setan alkohol, dan seterusnya. Berbagai penyakit terkait alcohol abuse membebani negara yg harus membiayai pengobatan dan perawatannya

Terus apa sebabnya peredaran alkohol ini tidak dihentikan saja? Karena demand selalu ada, mereka minum alkohol seperti kita minum air putih atau bajigur, setiap waktu dan tempat. Karena kuatnya lobi komersial perusahaan liquor, karena mereka tidak punya pegangan yg jelas dalam hidup mereka sehingga ada persoalan apapun akan lari ke alkohol, karena mereka tidak punya konsep haram halal, karena peer pressure dan seterusnya.

Sekarang perhatikanlah sekitar anda dan bacalah berita. Sudahkah apa yg terjadi di atas mulai nampak di tanah air? Di mini market tertentu liquor sudah mulai dijual di lemari khusus. Disini gaya hidup atau gaya-gayaan, pengaruh tontonan dan peer-pressure barangkali masih jadi faktor utama kebutuhan terhadap alkohol, terlebih anak mudanya. Tapi jika dengan mudahnya anak anak kita mendapatkannya maka tinggal tunggu waktunya saja, apa yg dulu aku syukuri karena tidak terjadi di tanah air sudah mulai nampak gejalanya.

Di sana saja yg penegakan hukum berjalan efektif dampak alkohol tak terbendung dahsyatnya. Apatah lagi di tanah air yg lebih banyak mengandalkan hukum rimba? Disana kini makin banyak orang yg dengan sadar memilih utk tee-total atau zero alcohol consumption. Disini malah sedang dibudayakan..

Mau makin hancurkah generasi muda kita? SAVE OUR CHILDREN, SAVE OUR NEXT GENERATION...

ps: mohon maaf utk teman2 tercinta yg masih tinggal di UK karena negeri tsb aku jadikan ilustrasi, masih banyak hal baik yg bisa kita pelajari dari sana tentunya.

Dian Utami, 8 April 2015, Depok


Sumber: https://www.facebook.com/dian.utami72/posts/10204571370939163
Foto: Ilustrasi

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top