Bos pabrik jamu Jago, Jaya Suprana, pengusaha etnis Tionghoa yang santun dan ramah itu pada Rabu 25 Maret 2015 lalu, menulis sebuah surat terbuka untuk Gubernur DKI Jakarta Ahok alias Zhong Wanxue alias Basuki Cahaya Purnama di sebuah media cetak nasional.

Dalam surat itu, pendiri dan Ketua Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) itu mengaku sebagai sesama keturunan China dan Nasrani ia kagum dan bangga pada Ahok dalam membasmi korupsi.

Namun, tokoh nasional yang dikenal suka berdialog dengan berbagai kalangan itu mengingatkan, akhir-akhir ini lambat tetapi pasti timbul rasa benci masyarakat terhadap Ahok akibat kalimat-kalimat dan kata-katanya yang tidak sopan dan tidak santun. Bahkan, kata Jaya, sejumlah kalangan cendekiawan, rohaniwan, akademikus bahkan politikus yang sebelumnya mendukung Ahok, kini mulai membencinya.

Jaya Suprana juga mengingatkan Ahok sebagai seorang pejabat publik dari warga minoritas China, sering dijadikan representasi atas etnisnya. Karena itu Jaya meminta meminta Ahok agar menjaga kata-kata dan tingkah lakunya demi keamanan warga keturunan China.

Selanjutnya, Jaya mengingatkan Ahok atas terjadinya kerusuhan-kerusuhan yang berlatar belakang SARA, khususnya yang mengintimidasi keturunan China. Dari peristiwa G30S (Gerakan 30 September), kerusuhan rasial tahun 80an di Semarang, dan terakhir kerusuhan besar tahun '98 di nusantara.

Jaya mengingatkan Ahok, dalam sejarah perjalanan nusantara pernah terjadi beberapa peristiwa konflik yang diakibatkan oleh ulah beberapa keturunan China yang bersikap dan berperilaku layak dibenci hingga jatuh korban. Hingga kini, kata Jaya, sebenarnya kebencian terhadap kaum China di Indonesia belum lenyap.

"Kebencian masih hadir sebagai api dalam sekam yang setiap saat rawan membara, bahkan meledak menjadi huru hara apabila ada alasan," katanya.

Lalu apa komentar Ahok terhadap Jaya yang dengan ikhlas menasehatinya itu?. Ahok mengatakan langkah Jaya Suprana dengan menulis surat terbuka di media itu adalah langkah provokatif.

"Kalau dia baik hati, ngapain dia provokasi lewat koran, itu justru provokasi orang-orang lho," kata Ahok sengit  kepada wartawan, di Balai Kota, Senin (30/03).

"Kalau ada risiko saya sendiri dan keluarga yang menanggung kok. Ngapain Anda (Jaya Suprana) repot-repot? Dia itu otaknya status quo.”

Bahkan, Ahok mengatakan langkah Jaya Suprana itulah yang melatih dirinya sendiri untuk berbuat rasis. "Dia merasa masih kayak otak warga negara kelas dua, dia melatih merasis diri," ungkapnya.

Ahok menambahkan dirinya tidak perlu merasa takut terhadap risiko langkahnya selama ini. "Apapun yang saya lakukan karena ini hak saya, kenapa saya harus ketakutan? Kan posisinya sama warga Indonesia yang dilindungi undang-undang, waktu kerusuhan 98 saya enggak tahu apa-apa," imbuhnya.

Di akhir surat terbukanya, Jaya Suprana kembali mengingatkan Ahok “Bukan sesuatu yang mustahil bahwa kata-kata tidak sopan Anda (Ahok) menyulut sumbu kebencian sehingga meledak menjadi tragedi huru-hara yang tentu saja tidak ada yang mengharapkannya.”


Tim News FPI

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top