Assalaamu 'alaikum Wa Rohmatullaahi wa Barokaatuhu.

Alhamdulillaah, berkat doa ikhwan semua, saat ini kondisi saya dalam perawatan RS sudah jauh lebih baik. 

Sebenarnya saya tidak sakit, hanya sangat kelelahan akibat Safari Da'wah yang terus menerus sejak bulan Syawwal hingga Maulid ini, sehingga Gula Darah, Cholesterol, Asam Urat, Lekosit, dan Kalium serta Tensi Darah menjadi tidak karuan mengganggu  stabilitas metabolisme tubuh.

Karenanya, saya dirawat di RS oleh para Dokter yang baik dan berdedikasi serta memiliki ghirah Islam yang tinggi, hanya untuk istirahat total dan perbaikan metabolisme tubuh serta pemulihan tenaga.

Dan berkahnya, dalam ruang perawatan dengan infus dan pemeriksaan yang kontiniu, saya masih bisa menulis artikel  Kisah Shahabat ke-8 tentang Abdullah ibnu Mas'ud RA. Alhamdulillaah.

Terima Kasih atas doa dan dukungannya. Selamat menyimak Kisah Shahabat Nabi SAW !

Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

PENGGEMBALA TERNAK

Abdullah ibnu Mas'ud RA biasa dipanggil dengan panggilan "Ibnu Ummi 'Abdin". Lahir di Mekkah dan sejak kecil bekerja sebagai penggembala ternak milik Abul Walid 'Uqbah ibnu Abi Mu'aith seorang Pembesar Kafir Quraisy.

Abdullah RA tidak banyak mendengar berita tentang Rasulullah SAW, karena dua hal : Pertama, karena usianya yang masih anak-anak. Kedua, karena setiap hari ia sibuk dengan pekerjaannya, pagi ia pergi dengan kawanan hewan ternaknya ke pinggiran kota Mekkah, dan tidak kembali kecuali menjelang malam.

MENJAGA AMANAT

Suatu hari ketika usianya mau menginjak remaja, tatkala ia sedang asyik menggembalakan ternaknya, datanglah dua musafir menghampiri dan menyapanya : "Wahai pemuda, bolehkah kami meminum susu salah satu kambingmu, untuk menghilangkan rasa haus kami dan mengobati lelah kami ?"

Abdullah RA langsung menjawab dengan polos : "Maaf, saya tidak bisa memenuhi permintaanmu, karena kambing-kambing ini bukan milik saya.".

Kedua orang tersebut tampak tersenyum, sama sekali tidak menunjukkan rasa kecewa atau kesal, bahkan kagum dengan sikap Abdullah RA yang setia menjaga amanat tuannya.

MUSAFIR AJAIB

Lalu, salah seorang dari musafir tersebut meminjam salah satu kambing kecil yang tidak bersusu, Abdullah RA pun mengizinkannya. Kambing kecil tersebut dibelai dan diusap oleh tangan si musafir, saat disentuh puting susunya yang belum tumbuh sambil membaca beberapa kalimat, tiba-tiba puting kecil itu mengeluarkan dan memancurkan banyak air susu. Abdullah RA pun terkejut dan terheran-heran.

Musafir yang seorang lagi segera mengambil bejana dari batu untuk menampung susu, kemudian kedua orang musafir tersebut bersama Abdullah RA meminumnya. Usai meminum susu, Si Musafir Ajaib mengusap kembali kambing tadi sambil membaca sesuatu, lalu puting susunya berhenti tidak mengeluarkan susu lagi.

Abdullah RA pun meminta kepada Si Musafir Ajaib untuk mengajarkannya kalimat-kalimat yang tadi diucapkan dan menyebabkan keajaiban. Si Musafir Ajaib hanya mengatakan :

                  "إنك غلام معلَٓم "

"Sesungguhnya engkau adalah pemuda yang akan mendapat ilmu."

SAHABAT RAHASIA NABI SAW

Abdullah RA penasaran tentang Si Musafir Ajaib dan Shahabatnya. Ia pun terus mencari tahu. Akhirnya, ia tahu bahwa Si Musafir Ajaib adalah Rasulullah SAW, sedang Shahabat yang menemaninya adalah Sayyiduna Abu Bakar RA.

Abdullah RA yang telah menyaksikan dan merasakan langsung Mu'jizat Nabi SAW, sedikit pun tidak lagi meragukan kebenaran ajarannya. Ia pun tanpa ragu masuk Islam, dan hidup di samping Nabi SAW untuk melayaninya.

Jika Anas ibnu Malik RA terkenal sebagai pelayan Nabi SAW di Madinah, maka Abdullah ibnu Mas'ud RA terkenal sebagai pelayan Nabi SAW di Mekkah. Dan Abdullah RA termasuk dari Golongan yang memeluk
Islam pertama.

Abdullah RA bisa menemui Nabi SAW kapan saja, bahkan beliau diizinkan untuk keluar masuk ke kamar Nabi SAW. Kemana Nabi SAW pergi, Abdullah RA selalu menyertai. Dia lah yang selalu melayani Nabi SAW di dalam mau pun di luar rumah. Dia lah yang menyiapkan air dan menutup rapat serta menjaga Nabi SAW saat mandi. Dan dia lah yang memakaikan dan melepaskan terompah dan jubah serta 'imamah Nabi SAW. Dia pula yang membawa tongkat dan sorban serta barang Nabi SAW lainnya saat berpergian. 

Karenanya, Abdullah RA banyak mengetahui dan menyimpan rahasia Nabi SAW yang tidak diketahui Shahabat lainnya. Dan Nabi SAW sangat mempercayai kejujurannya dalam menjaga amanat dan rahasia.

Itulah sebabnya, Abdullah ibnu Mas'ud RA dijuluki sebagai "Shahabat Rahasia Rasulullah SAW".

IMAM QIROO'AAT

Abdullah RA juga termasuk penghafal Al-Qur'an, bahkan keindahan bacaannya mendapat pujian dari Rasulullah SAW. Abdullah RA mengetahui tentang kapan dan dimana serta kenapa suatu ayat diturunkan. Dan ia pun mendalami makna dan artinya serta mengamalkan isi kandungannya.

Suatu malam, Rasulullah SAW berbincang di rumah Sayyiduna Abu Bakar RA bersama Shohibul
Bait yang ditemani Sayyiduna Umar ibnul Khaththab RA, hingga tengah malam. Lalu saat pulang, kedua Shahabat tersebut ikut mengantar Nabi SAW. Ketika melewati masjid, mereka melihat ada seseorang dalam
kegelapan sedang berdiri Shalat membaca Al-Qur'an dengan indah. 

Rasulullah SAW mengajak kedua Shahabatnya berhenti untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'annya. Lalu Nabi SAW yang tidak asing dengan suara tersebut berkata kepada keduanya seraya memuji si pembaca Al-Qur'an :

" من سره أن يقرأ القرآن رطبا كما نزل ، فليقرأه على قراءة ابن أم عبد "

"Barangsiapa yang senang membaca Al-Qur'an dengan indah sebagaimana diturunkan, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Ummi 'Abdin."

Abu Bakar RA dan Umar RA pun baru menyadari kalau si pembaca Al-Qur'an tersebut adalah Abdullah ibnu Mas'ud RA. Kemudian, setelah selesi Shalat, Abdullah RA bermunajat membaca doa, dan Rasulullah SAW dari kejauhan mengatakan :

       " سل تًعطًه ... سل تًعطًه ... "

"Mintalah niscaya diberikannya ... Mintalah niscaya diberikannya ... "

Keesokan harinya, Umar RA bergegas menemui Abdullah RA untuk menyampaikan kabar gembira tentang pujian dan doa Nabi SAW baginya. Namun saat bertemu Abdullah RA, ternyata Abu Bakar RA telah mendahuluinya.

Akhirnya Umar RA berkata : "Demi Allah, tidaklah aku berusaha mendahului Abu Bakar dalam suatu kebaikan, kecuali Abu Bakar selalu mendahuluiku."

ULAMA SHAHABAT

Kedekatannya dengan Rasulullah SAW, membuat Abdullah RA banyak mewarisi ilmu dan akhlaq Nabi SAW. Bahkan beliau RA tampil sebagai salah seorang Shahabat Nabi SAW yang menjadi ULAMA berilmu luas dan berakhlaq mulia serta jadi panutan, berkat pendidikan langsung dari Rasulullah SAW,

Keulamaan Abdullah RA diakui para Shahabat yang lain. Pernah suatu ketika di zaman Khalifah Umar ibnul Khaththab RA ada seorang warga Kufah di Iraq bertemu Khalifah Umar RA di 'Arafah saat Wuquf Haji. Khalifah RA pun bertanya tentang asal daerahnya. Lalu orang tersebut menjawab dengan bangga : "Aku datang dari negeri yang memiliki seorang ulama yang menguasai seluruh Qira'at Al-Qur'an."

Khalifah Umar RA pun marah mendengar jawaban tersebut : "Celaka kau ... , siapa orangnya ?!"  Orang tadi menjawab lantang : "Abdullah ibnu Mas'ud !!!" Mendengar jawaban itu, Umar RA spontan lega dan kemarahannya pun langsung reda seraya berkata : " Celaka kau ... , aku kira siapa ?!  Demi Allah, aku tak tahu seorang pun yang lebih berhak dengan sebutan itu kecuali dia." 

Lalu Umar RA pun menceritakan pengalamannya tentang pujian dan doa Nabi SAW bagi Abdullah RA terkait keahliannya soal Al-Qur'an sebagamana tersebut di atas.

Pernah pada suatu ketika yang lain, dalam suatu perjalanan rombongan Kafilah Khalifah Umar RA bertemu dengan rombongan Kafilah lain dalam kegelapan malam. Lalu Umar RA memerintahkan pengawalnya mengajukan beberapa pertanyaan tentang asal dan tujuan kafilah tersebut. Kemudian Umar RA mendengar jawaban dari salah seorang dalam Kafilah tersebut untuk setiap pertanyaan dengan ayat Al-Qur'an. Maka Umar RA mengatakan kepada rombongannya bahwa di dalam Kafilah lain tersebut pasti ada seorang Ulama.

Lalu Umar RA memerintahkan pengawalnya mengajukan beberapa pertanyaan tentang Al-Qur'an. Semua soal pun dijawab tangkas oleh orang tersebut dengan ayat-ayat Al-Qur'an pula.

Akhirnya, Umar RA berkata : "Orang yang bisa menjawab dengan demikian bagus tentang Al-Qur'an hanya Abdullah ibnu Mas'ud." Rombongan Kafilah itu pun serentak menjawab bahwa di tengah mereka memang ada Abdullah ibnu Mas'ud RA.

PENGUNJUK RASA PERTAMA

Suatu hari di Masa Awal Islam para Shahabat Nabi SAW di Mekkah berkumpul dan berdialog sesama mereka, tentang keinginan mereka bahwasanya mesti ada seseorang selain Nabi SAW yang berani membacakan Al-Qur'an secara terbuka di depan para Tokoh Quraisy. Lalu Abdullah RA secara spontan menawarkan dirinya.

Semula para Shahabat menolak tawaran Abdullah RA karena mengingat tiga hal : Pertama, Abdullah RA tidak punya kerabat dan suku yang kuat untuk melindunginya. Kedua, umat Islam saat itu masih sedikit dan kebanyakan dari kaum mustadh'afiin (lemah). Ketiga, Abdullah RA berperawakan kecil dan kurus sehingga dikhawatirkan tidak mampu menanggung resikonya. 

Namun Abdullah RA tetap berkeras melakukannya sambil berkata :

" دعوني فإن الله سيمنعني ويحميني "

" Biarkan saya, maka sesungguhnya Allah akan melindungi dan menjagaku."

Keesokan harinya di waktu Dhuha, Abdullah RA berangkat ke Al-Baitul Haram dan berdiri di antara Maqom Ibrahim AS dan Pintu Ka'bah. Saat itu para Tokoh Kafir Quraisy sedang duduk di depan pintu Ka'bah. Lantas mulailah Abdullah RA membaca Surat Ar-Rahmaan. 

Para Tokoh Quraisy tertegun mendengarkan dan memperhatikan bacaan Abdullah RA. Namun tak berapa lama mereka baru menyadari bahwa yang dibaca adalah ayat Al-Qur'an yang dibawa Nabi Muhammad SAW, mereka pun murka lalu serentak berdiri menghajar dan memukuli Abdullah RA, sehingga wajahnya lebam-lebam dan berdarah, sementara badannya serba biru akibat tendangan dan pukulan.

Menakjubkannya, Abdullah RA tidak peduli dengan hajaran dan hantaman Kafir Quraisy. Di tengah tendangan dan pukulan tersebut, ia tetap terus membaca Surat Ar-Rahmaan. Dengan segala kemampuan ia berusaha menyelesaikan pembacaan Surat Ar -Rahmaan. Usai membaca Surat Ar-Rahmaan, Abdullah berusaha lepas dari penganiayaan tersebut. Ia pun berhasil lolos dengan badan biru dan wajah lebam serta darah bercucuran.

Para Shahabat sangat prihatin dan sedih melihat kondisi Abdullah RA,  namun Abdullah RA berkata kepada mereka :

" والله ما كان أعداء الله أهون في عيني منهم الآن ، وإن شئتم لأغادينهم بمثلها غدا "

"Demi Allah, kini di mataku tidak ada musuh Allah yang lebih hina dari mereka. Jika kalian menghendaki maka niscaya besok pagi aku akan lakukan hal seperi itu lagi."

Namun para Shahabat menolak, karena mereka menilai bahwa Abdullah ibnu Mas'ud RA telah cukup berhasil memperdengarkan ayat Al-Qur'an kepada para Tokoh Kafir Quraisy secara terbuka. 

Ya, Abdullah RA telah sukses menggelar AKSI UNJUK RASA di hadapan musuh Allah SWT walau pun seorang diri dengan resiko yang berat, dihajar dan dihantam, bahkan hampir dibunuh. Abdullah RA berhasil mendemonstrasikan rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW serta Kitab Suci-Nya Al-Qur'an di tengah para penguasa dan pembesar Mekkah yang ketika itu dikuasai kaum musyrikin.

Dengan demikian, Abdullah RA tercatat dalam Sejarah Islam sebagai Pengunjuk Rasa Pertama yang turun ke jalan membela Islam secara terang-terangan dan demonstratif di hadapan Penguasa Kafir dan Zholim tanpa mengenal rasa takut. 

JIHAD ABDULLAH RA

Abdullah RA berbadan kecil dan kurus serta tampak lemah tak bertenaga, sehingga terkesan di mata orang yang melihatnya bahwa jika ada angin bertiup saja maka badan Abdullah RA akan bergoyang tak tahan.

Karenanya, saat di Madinah, keinginan Abdullah RA untuk ikut serta berjihad, sering ditentang oleh sebagian Shahabat. Abdullah RA sering muram dan sedih karenanya. Mengetahui itu, Nabi SAW mengingatkan Shahabat agar tidak menghalangi keinginan mulia Abdullah RA, bahkan beliau menginfokan berita yang cukup mengejutkan bahwasanya Abdullah RA nanti yang akan membunuh Abu Jahal dan mengabarkan kematiannya kepada Nabi SAW.

Saat Perang Badar, Abdullah RA ikut serta dengan penuh semangat walau pun harus menguras tenaga untuk mengangkat pedang dan tombaknya. Usai pertempuran, Rasulullah SAW memerintahkan Abdullah RA untuk memeriksa mayat-mayat musuh yang tewas, khususnya Abu Jahal. 

Abdullah RA pun menelusuri mayat tiap musuh, hingga mendapatkan jasad Abu Jahal. Ternyata Abu Jahal belum mati, bahkan berusaha untuk bangun dengan menghunuskan pedang sambil memandang Abdullah RA dengan penuh amarah dan kebencian. 

Abdullah RA terkejut dan sempat mundur beberapa langkah sambil mengangkat tombaknya yang cukup berat untuk ukuran tubuhnya. Tapi ketika terlihat Abu Jahal jatuh duduk tanpa tenaga, Abdullah RA pun mendekat dan menarik jenggotnya sambil menyebutnya sebagai "Syeikh Sesat", lalu dengan tombaknya Abdullah RA menghabisi Abu Jahal.

Saat Abdullah RA melaporkan kepada Nabi SAW tentang Abu Jahal, beliau SAW bersyukur kepada Allah SWT dan menyebut Abu Jahal sebagai "Fir'aun Umat ini".

Para Shahabat pun bertahmid dan bertasbih serta bertakbir atas kebenaran INFO NUBUWWAH bahwa Abu Jahal akan dibunuh oleh Abdullah ibnu Mas'ud RA dan ia pula yang akan mengabarkan Nabi SAW akan berita gembira tersebut.

Perlu dicatat, bahwa ketika Tujuh Tokoh Kafir Quraisy, yaitu : Abu Jahal, 'Utbah b Robi'ah, Syaibah b Robi'ah, Umayyah b Kholaf, Ubay b Kholaf, Al-Walid b 'Utbah, dan 'Uqbah b Abi Mu'aith, menghina dan mengganggu Rasulullah SAW saat beliau sujud Shalat di depan Ka'bah, dengan melumuri kepala dan punggung beliau dengan kotoran Onta yang sudah disembelih beberapa hari sebelumnya, maka Nabi berdoa kepada Allah SWT untuk membalasnya kepada mereka.

Nah, saat usai Perang Badar, Abdullah ibnu Mas'ud RA menyatakan : "Demi Allah, aku menyaksikan ketujuhnya mati dalam Perang Badar dan dilemparkan jasadnya ke dalam kuburan massal berupa Lobang Besar di Medan Badar."

Cerita Abu Jahal diriwayatkan dalam tidak kurang dari 65 (enam puluh lima) riwayat dalam Muwaththo' Imam Malik rhm dan Musnad Imam Ahmad rhm serta Kutubus Sittah yang enam yaitu Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasaa-i dan Ibnu Maajah, rohimahumullaah. Belum lagi di kitab-kitab Tarikh dan Hadits lainnya.

AJAL MENJEMPUT

Saat Abdullah ibnu Mas'ud RA sakit menjelang ajal, Khalifah Utsman ibnu 'Affan RA membesuknya dan bertanya : "Wahai Ibnu Ummi 'Abdin, apa yang keluhanmu."  Abdullah RA pun menjawab singkat : "Dosa-dosaku." Utsman RA bertanya lagi : "Lalu apa yang kau harapkan ?" Abdullah RA menjawab lagi : "Rahmat Tuhanku."

Lalu Utsman RA bertanya lagi dengan lembut : "Aku telah menetapkan bagianmu dari Baitul Mal, tapi telah bertahun-tahun engkau menolaknya. Kenapa ?"  Abdullah RA pun menjawab dengan kerendahan hati : " Aku tidak membutuhkannya."

Utsman RA pun bertanya kembali sambil menegur Abdullah RA dengan santun : " Tapi bukankah akan sangat berguna untuk putri-putrimu nanti ?"

Abdullah RA menjawab dengan tenang dan yakin : "Adakah kau khawatir kemiskinan terhadap putri-putriku ?! Sesungguhnya aku telah mengajarkan dan memerintahkan mereka untuk merutinkan pembacaan Surat Al-Waaqi'ah setiap malam, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : 

من قرأ الواقعة كل ليلة لم تصبه فاقة أبدا

" Barangsiapa membaca Al-Waaqi'ah setiap malam, maka tidak akan tertimpa kemiskinan / hajat yang sulit selamanya."

Akhirnya, Abdullah ibnu Mas'ud RA menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan lisan dan hati yang terus-menerus berdzikir kepada Allah SWT.

Rodhiyallaahu 'an Ibni Mas'uud wa 'an Jamii'ish Shohaabah ...

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top