Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Anas ibnu Malik RA dilahirkan di Yatsrib yaitu nama lama kota Madinah. Sejak kecil Anas RA dipelihara dan diislamkan oleh ibundanya "Al-Ghumaishoo" atau disebut juga "Ar-Rumaishoo" RA, sebelum Rasulullah SAW hijrah ke  Madinah.

Saat Nabi SAW bersama Shahabatnya Sayyiduna Abu Bakar RA hijrah dari Mekkah dan masuk Kota Madinah, Anas RA yang masih anak-anak bersama anak-anak Madinah lainnya ikut berlari-lari gembira di tengah kerumunan penduduk Madinah, baik Anshor mau pun Muhajirin, yang menyambut kedatangan Nabi SAW dengan haru biru dalam rasa mahabbah dan rindu.

HADIAH UNTUK NABI SAW

Kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah sangat menyenangkan hati kaum Anshor. Mereka pun secara bergantian datang menemui Nabi SAW dengan memberikan aneka ragam hadiah sebagai "Romzul Mahabbah" yaitu "Tanda Cinta".

Setelah semua kaum Anshor mendapat giliran bertemu Nabi SAW, maka terakhir datanglah Al-Ghumaishoo RA menemui Nabi SAW, sambil menuntun anaknya Anas RA yang berusia sepuluh tahun 

Al-Ghumaishoo RA berkata kepada Nabi SAW : "Wahai Rasulullah, seluruh kaum Anshor telah datang menemuimu dengan aneka ragam hadiah, sedang aku tak punya apa pun untuk kuberikan padamu selain anakku ini. Maka ambil dan terimalah dia untuk melayanimu."

Dengan wajah cerah Rasulullah SAW pun tersenyum hangat menerima Anas RA sebagai pelayannya. Nabi SAW mengusap kepala Anas dan mendoakannya serta menempatkannya di sampingnya. Dan Anas RA pun melayaninya dengan setia hingga wafatnya Nabi SAW.

KASIH SAYANG NABI SAW

Anas RA menceritakan bahwa selama sepuluh tahun beliau melayani Rasulullah SAW, tak pernah sekali pun Nabi SAW berkata kasar, membentak atau menghardiknya, apalagi memukul atau menyakitinya, walau pun terkadang Anas RA lalai dalam tugasnya.

Salah satu kejadian yang diceritakan Anas RA adalah tatkala suatu hari Rasulullah SAW menugaskannya untuk suatu keperluan, maka berangkatlah Anas RA untuk menunaikan tugas tersebut. 

Namun di tengah jalan Anas RA melihat teman-teman sebayanya sedang bermain, maka ia tertarik ikut bermain. Lalu saat sedang asyik bermain, tiba-tiba Rasulullah SAW ada di belakangnya dan memegangnya, sambil tersenyum Nabi SAW bertanya : "Wahai Unais, sudahkan kau laksanakan tugas yang aku berikan ?" 

Anas RA menjawab : "Sekarang aku pergi dan laksanakan tugas itu Wahai Rasulullah." Anas RA pun segera berlari menunaikan tugas, sementara Nabi SAW hanya tersenyum melihatnya dari kejauhan.

Rasulullah SAW memanggil Anas RA dengan sebutan "Unais" untuk menunjukkan cinta dan kasih sayangnya serta kedekatan dirinya.

DOA NABI SAW UNTUK ANAS RA

Salah satu Doa Nabi SAW untuk Anas RA adalah :

"اللهم ارزقه مالا وولدا ،  وبارك له ."

"Ya Allah, karuniakanlah ia harta dan anak, serta berkahilah baginya."

Allah SWT mengabulkan doa Nabi-Nya, sehingga Anas RA menjadi ANSHOR yang terkaya hartanya dan terbanyak anak dan cucunya, serta terpanjang umurnya dan paling banyak riwayat haditsnya.

Anas RA dikarunikan anak dan cucu lebih dari seratus, dan dipanjangkan umur hingga 103 tahun. Dan beliau adalah perawi hadits terbanyak setelah Abu Hurairah RA dan Abdullah ibnu Umar RA.

JIHAD ANAS RA

Anas RA tidak saja melayani Nabi SAW di rumah dan majelisnya, tapi juga di semua kegiatannya, termasuk di Medan Perang sekali pun.

Semenjak Anas RA menginjak dewasa, beliau selalu setia mendampingi Nabi SAW dalam setiap misi jihadnya. Beliau adalah pelayan Nabi SAW dalam suka dan duka, serta dalam tenang dan perang.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Anas RA tetap ikut dalam berbagai  medan jihad, salah satunya adalah Perang Penaklukan Kota Tustar di Khuzistan sebagai bagian penting dari rentetan Perang Penaklukan Kekaisaran Persia di zaman Khalifah Umar ibnul Khaththab RA.

UJIAN JIHAD ANAS RA

Dalam Perang Penaklukan Tustar, Anas RA mengalami nasib tragis. Kala itu Tentara Persia berlindung di dalam Benteng yang tinggi dan kokoh, sementara Tentara Islam mengepungnya dari luar Benteng.

Dari atas Benteng, Tentara Persia menggunakan senjata Rantai Panjang yang di ujungnya dipasang Baja Berkait  yang tajam dan telah dipanaskan hingga merah membara. Lalu mereka lemparkan ke tengah pasukan muslimin dan menariknya ke atas.

Beberapa Tentara Islam terkena kaitan baja tersebut dan ditarik oleh musuh ke atas Benteng hingga terluka parah, bahkan ada yang mati karenanya. Salah satu yang terkena Baja Berkait yang panas dan merah membara itu adalah Anas RA.

Di saat-saat genting, tatkala badan Anas RA terkena Baja Berkait dan ditarik oleh musuh dari atas Benteng, maka saudara Anas RA yang bernama Al-Barro' ibnu Malik RA mengejar dan menangkap badannya dengan sigap. 

Al-Barro' RA sambil menahan tarikan rantai panjang musuh yang menarik jasad saudaranya ke atas Benteng, ia berusaha mati-matian mencabut Baja Berkait dari badan saudaranya tersebut. Dia tidak peduli dengan rantai dan baja yang panas membara, hingga tangannya hangus melepuh.

Dengan izin Allah SWT, akhirnya,  Al-Barro' RA berhasil melepas kaitan baja dari tubuh Anas RA, dan menjauhkan Anas RA dari jangkauan musuh. Anas RA pun selamat dari maut walau badannya terluka parah.

Sedang Al-Barro' RA setelah menyelamatkan Anas RA, dan mengamankannya di barisan belakang, langsung maju kembali melanjutkan pertempuran melawan musuh, walau dalam keadaan tangan terluka parah.

Bagaimana nasib Al-Barro' RA selanjutnya ?  Insya Allah akan dipaparkan dalam Kisah Shahabat berikutnya.

AKHIR HAYAT

Di akhir usianya, Anas RA sering berkata kepada keluarga dan muridnya :

" إني لأرجو أن ألقى رسول الله صلى الله عليه وسلم في يوم القيامة فأقول له : يا رسول الله هذا خويدمك أنيس "

"Sesungguhnya aku sangat berharap agar bertemu Rasulullah SAW di Hari Qiyamat, lalu aku katakan kepadanya : Wahai Rasulullah, ini pelayan kecilmu Unais."

Saat menjelang ajal, Anas RA meminta keluarganya terus mentalqinkan Kalimat Tauhid, ia terus mengikutinya hingga wafat dalam ucapan :

 " لا إله إلا الله محمد رسول الله "

Saat pemakaman Anas RA, keluarganya meletakkan Tongkat Kecil pemberian Nabi SAW disampingnya sesuai Wasiat Anas RA semasa hidupnya.


Rodhiyallaahu 'an Anas wa 'an Ummihi wa Akhiihi ....

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top