Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Pada Tragedi "Yaum Ar-Rojii' " di tahun 3 H, Suku Hudzail setelah berhasil membunuh  'Aashim RA dan Martsad Al-Ghonawi RA serta Khoolid Al-Laitsi RA, mereka menawan Abdullah ibnu Thooriq RA dan Zaid ibnu Ad-Dutsunnah RA serta Khubaib ibnu 'Adi RA.

Namun, saat Abdullah ibnu Thoriq RA hendak diikat, ia menolak dan berontak, sehingga akhirnya ia dibunuh. Sedang Zaid ibnu Ad-Dutsunnah RA dibawa ke Mekkah dan dijual kepada Shofwan ibnu Umayyah. 

Ada pun Khubaib ibnu 'Adi RA dijual kepada keluarga Bani Al-Harits, karena saat Perang Badar pemuka mereka yng bernama Al-Harits mati di tangan Khubaib RA.

CINTA ZAID RA

Saat Zaid ibnu Ad-Dutsunnah RA hendak dieksekusi mati oleh Kafir Quraisy, maka Abu Sufyan bertanya kepada Zaid :

"أنشدك بالله يا زيد .  أ تحب أن محمدا الآن عندنا مكانك ، نضرب عنقه وأنك في أهلك ."

 "Aku ingatkan dengan Tuhanmu Wahai Zaid. Apakah kau suka jika Muhammad saat ini di sisi kami menggantikan tempatmu, kami penggal lehernya, sedang engkau hidup aman di tengah keluargamu." 

Lalu Zaid RA pun langsung menjawab tanpa sedikit pun keraguan :

"والله ما أحب أن محمدا الآن في مكانه الذي هو فيه تصيبه شوكة تؤذيه وأني جالس في أهلي ."

"Demi Allah, aku tidak suka bahwa Muhammad saat ini di tempatnya tertusuk sebuah duri, sedang aku duduk aman di tengah keluargaku."

Mendengar jawaban tersebut maka Abu Sufyan pun berujar :

ما رأيت من الناس أحدا يحب أحدا كحب أصحاب محمد محمدا ."

"Aku tidak pernah melihat seorang manusia pun yang seseorang cinta kepada orang lain seperti cinta Shahabat Muhammad kepada Muhammad."

AKHLAQ KHUBAIB RA

Khubaib RA ditahan dalam satu ruangan di rumah keluarga Bani Al-Harits dengan tangan dan kaki yang dirantai. Di pagi hari menjelang eksekusinya, Khubaib RA meminta izin untuk bebersih diri, maka ia diberikan sebejana air dan sehelai handuk serta satu pisau cukur.

Sementara Khubaib RA sedang bercukur, tiba-tiba seorang anak kecil balita masuk dalam ruang tahanannya tanpa diketahui anggota keluarga Bani Al-Harits. Khubaib RA pun memangku anak tersebut sambil menghiburnya.

Selang tak berapa lama, para kaum wanita seisi rumah histeris ketakutan saat melihat anak salah seorang dari mereka ada dalam pengkuan Khubaib RA yang sedang memegang pisau cukur. Si anak pun kaget dan ketakutan serta menangis akibat jeritan kaum wanita tersebut, maka Khubaib RA segera memeluknya dan menenangkannya.

Lalu Khubaib RA meminta para penghuni rumah tersebut tetap tenang seraya berkata : "Demi Allah, aku lebih suka dibunuh di jalan Allah, daripada aku menakuti seorang anak kecil yang tak berdosa dan tak berdaya."

Setelah para penghuni rumah tersebut tenang dan si anak pun kembali ceria, maka Khubaib RA mengembalikan anak tersebut kepada ibunya.

Siang harinya Khubaib RA digiring oleh keluarga Bani Al-Harits ke lapangan luas untuk disiksa dengan disaksikan khalayak ramai dari penduduk Kota Mekkah.

Sebelum dieksekusi, Khubaib RA meminta izin untuk Shalat dua rakaat. Setelah diizinkan, beliau pun shalat dua rakaat ringan tanpa mengulur waktu. Lalu usai shalat beliau berkata kepada para penggiringnya : 

"لو لا تروا أن ما بي جزع من الموت لزدت ."

"Andaikata bukan karena kalian lihat bahwa aku takut menghadapi kematian, niscaya aku tambah shalatnya."

Setelah itu, Khubaib RA disiksa dengan disayat dan dipotong sedikit demi sedikit bagian tubuhnya. Dan akhirnya setelah tubuh Khubaib RA penuh dengan luka sayatan dan potongan, serta badan yang banjir darah, barulah Khubaib RA dihabisi oleh 'Uqbah ibnul Harits.

DOA KHUBAIB RA

Sesaat sebelum Khubaib RA menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia masih sempat berdoa kepada Allah SWT atas para penyiksanya :

اللهم أحصهم عددا ،  واقتلهم بددا ،  ولا تغادر منهم أحدا ."

"Ya Allah, perhitungkanlah mereka satu per satu, dan bunuhlah mereka semua, serta jangan kau tinggalkan seorang pun dari mereka."

Dalam kejadian yang tragis ini ada seorang pemuda kafir terpandang bernama Sa'iid ibnu 'Aamir Al-Jumahi menyaksikan seluruh prosesi penyiksaan terhadap Khubaib RA. 

Dan dia sempat mendengar doa terakhir Khubaib RA yang membuatnya bergetar dan selalu teringat serta membawa ketakutan bagi dirinya, sehingga ia terus merenungkannya sampai ia menemukan kebenaran. Dan akhirnya ia masuk Islam, lalu menjadi Shahabat Nabi SAW.

Lalu bagaimana cerita Islamnya Sa'iid ibnu 'Aamir Al-Jumahi RA ? Dan bagaimana pula kehidupannya sebagai seorang Shahabat Rasulullah SAW ?

Insya Allah, akan diuraikan dalam artikel mendatang.

Rodhiyallaahu 'an Khubaib wa Zaid wa Jamii'ish Shohaabah.


Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top