Probolinggo (SI ONLINE) - “Mega Proyek Liberal adalah Tafsir Al Quran Edisi Kritis untuk obok-obok Al Quran dengan Hermeneutika.  Ini proyek membebek orang-orang kafir yang sudah obok-obok Bibel”. Demikian ditegaskan oleh Ketua Umum FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab dalam acara Dauroh Ilmiyah di Ponpes Nurul Qadim, Paiton, Probololinggo, Selasa (20/11/2012). 

Adanya Mega Proyek Obok-obok Al Quran yang mereka sebut sebagai tafsir Al Quran Edisi Kritis pernah diungkapkan oleh operator penyebaran liberalisme Ulil Abshor Abdalla di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Habib Rizieq menjelaskan proyek obok-obok  dengan biaya dari the Asia Foudation ini bermula dari pemikiran Pendeta Alphonse Mingana (1839-1932), seorang Kristen Irak yang jadi dosen di Universitas Birmingham Inggris yang mengatakan ”Sudah tiba masanya untuk melakukan KRITIK TEKS terhadap AL-QUR’AN sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan Kitab Suci Kristen yang berbahasa Yunani.”

Pikiran Alphonse itu diperkuat oleh Pendeta Kristen Metodist Australia Arthur Jeffrey (1893-1956) yang mengatakan ”Apa yang kita butuhkan, bagaimana pun, adalah TAFSIR KRITIS yang mencontohi karya yang telah dilakukan oleh Orientalis Modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk Tafsir AL-QUR’AN.”

Habib Rizieq yang juga kandidat doktor di sebuah universitas ternama di Malaysia juga mengatakan mega proyek tersebut jelas adalah suatu makar kepada Al Quran dan umat Islam. Sayangnya ada cendekiawan muslim liberal yang menyambut ajakan kaum kafir tersebut. Tentunya ini tindakan bodoh dan bunuh diri. Sebab metode Hermeneutika itu bukanlah metode tafsir untuk al Quran, tapi itu adalah untuk Bibelnya kaum Nasrani dan Yahudi.

Prof. Josef van Ess, seorang teolog dari Jerman mengatakan, ”Bahwa HERMENEUTIKA yang berasal dari Jerman tidak ditujukan untuk kajian KEISLAMAN. Pada mulanya ia merupakan produk Teologi Protestan yang dipakai untuk kajian Bibel oleh Friedrich Schleiermacher, dan belakangan oleh Martin Heidegger dan Hans-Georg Gadamer dalam kajian kesusasteraan Jerman mau pun Klasik.”

Kaum liberal yang cuma nyontek doang alis taklid buta kepada orang-orang Kristen itu seharusnya segera taubat dan menyadari kebodohan mereka coba obok-obok Al Quran yang merupakan kalamullah yang suci dan dijaga kemurnian dan otensitasnya oleh Allah SWT sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya (QS. Al Hijr 9).

Jelas proyek tafsir Al Quran hermeneutika adalah proyek ngawur obok-obok Al Quran dengan menggunakan alat yang tidak cocok untuknya. Kaum liberal itu seharusnya ingat hadits Nabi saw.: “Siapa yang berbicara terhadap Al Quran dengan pendapatnya sendiri tanpa ilmu, maka hendaknya di menyediakan tempat duduknya di neraka”. Na’udzubillahi mindzalik. 

Sumber : suara-islam.com

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top